
Ribuan warga Jakarta memadati ruas-ruas jalan yang dilalui iring-iringan kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto dari Jalan Cendana menuju Pangkalan Udara Halim Perdana Kususma. Pemandangan tersebut terlihat dalam siaran live streaming KOMPAS.TV yang menayangkan rangkaian perjalanan rombongan sejak dari kediaman sang jenderal besar.
Rangkaian kendaraan berjalan dengan kecepatan lambat, menyusuri Jalan Cendana, Teuku Umar, Imam Bonjol, Rasuna Said, tol dalam kota lalu menuju Halim. Di Jalan Halim Perdana kusuma kepadatan massa kian terasa. Mereka termasuk anak-anak sekolah dan masyarakat yang juga membawa spanduk yang dibentangkan dipinggir jalan. Salah satunya bertuliskan, "Selamat Jalan Pahlawanku".JENAZAH mantan Presiden Soeharto sudah dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Solo sejak pagi tadi. Kawasan Cendana berangsur-angsur sepi. Namun, masih ada beberapa orang yang enggan beranjak dari rumah mantan penguasa orde baru itu. Mereka berdiri di jalan dan cukup puas memandang rumah itu dari luar pagar.
Bagi mereka menginjakkan kaki di luar rumah mantan presiden nomor dua RI itu merupakan pengalaman istimewa. Karena ini pertama kali mereka dapat melihat rumah tersebut dari dekat. "Belum pernah ke sini. Jadi bangga sekali melihat rumahnya Jenderal Besar. Jasanya tidak ternilai," ujar Ridoi (41) salah satu pelayat yang berasal dari Madura.
Sebagai kenang-kenangan, Ridoi memetik salah satu pucuk pohon yang tumbuh di halaman rumah almarhum Soeharto. "Buat kenang-kenangan deh, semua yang dari Cendana kan barharga," katanya sambil memasukkan pucuk pohon itu ke dalam saku belakang celananya.
Pengalaman datang pertama kali ke Cendana juga diakui Darsuni (34) warga Senen, Jakarta Pusat. Ia bersama suami dan anaknya menyempatkan berkunjung ke Cendana. "Dagangnya libur dulu. Bapaknya juga dagangnya libur," jawab Darsuni ketika ditanya apakah ia dan suaminya tidak bekerja.
Bagi Darsuni, almarhum Soeharto merupakan sosok pemimpin yang dapat memajukan negara Indonesia, khususnya di bidang perekonomian. "Saya merasa selama Bapak menjadi presiden usaha saya berjalan baik, setelah Bapak lengser, usaha saya juga lengser," tuturnya. Dulu Darsuni mempunyai warung nasi di daerah Buncit, tapi begitu mantan penguasa orde baru lengser, usahanya bangkrut. Kini ia berjualan kecil-kecilan di sekolahan.
Sampai kapan Darsuni dan keluarganya akan meninggalkan Cendana, ia menjawab, "Gak tau, nantilah. Mumpung ada kesempatan saya bisa ke sini." Sebagai kenang-kenangan Darsuni mengambil bunga yang terangkai dalam karangan bunga duka cita di depan rumah persemayaman almarhum Soeharto. "Ini buat kenang-kenangan," katanya serius.
