KEPERGIAN JENDERAL BESAR DAN RESIKO KEBESARANNYA
Dr Widodo judarwanto SpA
Jenderal Besar Suharto, salah satu anak bangsa yang terbaik yang dipunyai bangsa dalam satu abad ini telah berpulang selamanya. Segala usaha dan upaya yang dilakukan dengan serius, tekun, tegas dan tidak kenal lelah itulah Suharto menjadi pimpinan bangsa dan negara yang sangat monumental. Dalam kebesarannya itulah tentunya setiap napas dan geraknya mulai lahir hingga tutup usia menjadikan perhatian seluruh masyarakat Indonesia dan dunia. Dengan nama besar itu bahkan setiap tindakannya dapat merubah nasib dan seluruh kehidupan bangsa ini. Resiko kebesarannya itu jualah timbul segala puja dan cela dilontarkan oleh baik pengagumnya, kawan atau lawan politiknya. Dengan jenderal besarnya itulah banyak timbul kontroversi diantara jasa dan celanya.
Mungkin baru kali ini seorang anak Indonesia tidak hanya di jaman kejayaannya bahkan di akhir sisa hidupnyapun selalu menjadi perhatian banyak orang. Di setiap sisi hidupnya tidak akan disisakan sedikitpun oleh media untuk dikupas habis-habisan. Dengan adanya kemajuan tehnologi komunikasi, bahkan setiap detik hembusan napas di akhir hidup sang presiden menjadi pantauan ketat ratusan juta mata manusia. Seluruh hidupnya telah menjadi milik seluruh lapisan bangsa ini, sehingga menjadi wajar bila kebesarannya dijadikan komoditas atau kepentingan bagi individu atau kelompok manapun di negeri ini. Di era keterbukaan ini segala kebesarannya itulah dijadikan ajang kepentingan. Kepentingan bisnis bagi media, kepentingan politik bagi kelompok tertentu, kepentingan ekonomi bagi pelaku bisnis dan berbagai kepentingan terselubung lainnya.
Kontroversi ditengah kebesaranya
Pohon tinggi akan tertiup angin lebih besar adalah gambaran segala kebesarannya akan berimbas adanya kontroversi semakin besar selalu mengiringi setiap langkah hidupnya. Kebesaran dalam hidupnya telah menoreh prestasi yang sangat monumental di alam Indonesia. Dibalik prestasi yang sangat besar itulah tersebut sangat wajar bila timbul kontroversi yang besar pula. Kontoversi ini mungkin tidak akan tampak dipermukaan pada zaman pemerintahan orde baru, tetapi kontroversi itu akan semakin mengungat dan membabibuta di jaman efuria ini.
Kontroversi itu tidak hanya berimbas pada prestasi hebatnya tetapi juga kontroversi dalam sisi negatif kehidupannya. Bila disimak cermat, kontroversi itu sudah timbul mulai awal riwayat karier hidupnya, berbagai tindakan heroik dan spetakular seperti peristiwa serangan umum 1 maret, peristiwa pembesasan kekejaman PKI 30 September atau peristiwa naskah super semar 11 maret masih masih menjadi bahan perdebatan panas para ahli sejarah dan politikus. Tampaknya dengan semakin tingginya kebesaran kualitas seseorang maka semakin kuat dan semakin sulit untuk menyelesaikan dan mengungkapkan berbagai kontroversi dalam hidupnya. Semakin banyak media yang mengungkapkan maka semakin besar kontroversi itu timbul, semakin tinggi kepakaran seorang ahli yang menganalisis maka kontroversi itu akan semakin dalam. Dengan kebesarannya itulah tampaknya sejarah hanya bisa mencatat prestasinya mungkin ahli sejarah sekalipun sulit memecahkan kontroversi itu.
Era setelah kepergiannya
Sejak tanah terakhir mengubur jazad sang jenderal besar, berbagai kebesarannya berikut jasa dan celanya akan menjadi kontroversi yang tidak akan pupus dilekang jaman. Sebagai bangsa besar yang harus menghargai para pendahulunya setiap anak bangsa harus arif dan rasional. Setiap puja yang dilontarkan pengagumnya harus diberikan secara proposional dan tidak berlebihan yang dapat mengkultuskan seseorang. Tetapi puja itu dapat diteruskan, karena dengan cara itu sebagai masyarakat yang berbudaya dapat menjadikan prestasi sang jenderal besar sebagai pedoman bangsa ini untuk lebih maju ke depan. Segala puja itu dapat dijadikan arahan para penggantinya untuk dapat menciptakan prestasi monumental seperti yang dibuat sang presiden.
Sebagai negarawan besar dalam menjalankan tugasnya selain menciptakan karya besar tentunya sangat wajar akan menimbulkan dampak negatif yang tidak kecil. Berbagai masyarakat pasti akan menikmati buah madu karya besarnya, tetapi tidak dipungkiri pasti ada konsekuensinya sebagian lain terkena racun dari karya besarnya. Sebagai manusia biasa sang jenderal besar pasti punya banyak kelebihan tetapi tidak mungkin tidak ada kelemahan dan celanya. Seorang manusia biasa pasti tidak akan kuasa menghindari dampak negatif dalam langkah besarnya selama ini. Sebagai pihak yang merasa dipinggirkan akibat kiprah besarnya itu tentunya harus lebih rasional, arif dan bijaksana. Jangan sampai dampak negatif manusia yang terpinggirkan itu malahan menjadi permusuhan yang kontrapoduktif. Sebaiknya hal buruk yang terjadi itu dapat dijadikan pelajaran bagi anak bangsa ini dalam mengelola bangsa yang besar ini ke depan. Jangan sampai kontroversi itu malahan menjadikan bangsa ini menjadikan mundur dan menjadi manusia yang tidak berbudaya.
Kalaupun masih ada ganjalan dan piutang dengan sang presiden sebaiknya diselesaikan dengan santun dan berbudaya dengan ahli warisnya. Penyelesaian masalah itu bukan untuk kepentingan individu tetapi untuk kepentingan masyarakat lebih luas. Jangan sampai kebesaran sang jenderal besar dijadikan komoditas kepentingan picik pihak tertentu yang membuat bangsa ini selalu cenderung untuk berjalan mundur. Biarlah sejarah yang mencatat segala kebesaran dan kekurangan sang presiden. Manusia arif hanya bisa menjadikan pelajaran bagi perjalanan sejarah bangsa selanjutnya. Manusia mempunyai keterbatasan yang tidak bisa menilai dan menghakimi karya besar sang jenderal secara benar. Hanya Sang Pencipta yang bisa menilai niat baik, ketulusan dan kekurangan seorang manusia. Selamat tidur dalam kedamaian sang jenderal besar. Jasamu akan menjadi tinta emas dalam sejarah bangsa ini. Meskipun engkau tidur langkah besarmu terus akan diayun untuk menjadi landasan bangsa ini melangkah ke depan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar