Minggu, 27 Januari 2008

SANG JENDERAL BESAR DI MATA PIMPINAN NEGARA LAIN




Ucapan belasungkawa dari sejumlah pemimpin negara terus mengalir ke Indonesia setelah mantan presiden HM Soeharto meninggal dunia dalam usia 87 tahun Minggu (27/1). Kritik, sanjungan ataupun pandangan disampaikan beberapa pemimpin negara sebagai kenangan terhadap pemimpin Orde Baru tersebut.

"Pak Harto merupakan salah satu tokoh yang pernah terlama menjabat sebagai kepala negara dalam 1 abad terakhir dan berpengaruh di Australia serta sejumlah negara lainnya, jelas Perdana Menteri Australia Kevin Rudd dalam sebuah pernyataannya."Pak Harto juga dikenal sebagai tokoh kontroversial dalam masalah HAM dan Timor-Timur. Banyak pihak tidak setuju dengan pendekatan Pak Harto dalam masalah tersebut," jelas Kevin Rudd yang memuji HM Soeharto karena perannya dalam memodernisasi dan menyatukan bangsa Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Singapura, lewat surat elektronik, menyampaikan pernyataan dukacita yang mendalam terhadap masyarakat Indonesia atas kehilangan besar sehubungan dengan berpulangnya Pak Harto.

Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengungkapkan berpulangnya Pak Harto merupakan kehilangan besar baik bagi Indonesia maupun Malaysia. "Kami memanjatkan doa semoga arwah Pak Harto diterima di sisiNya, ujar Ahmad Badawi.

Sementara mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad (82) mempunyai kenangan tersendiri terhadap Pak Harto lewat wawancara dengan kantor berita Bernama di Kuala Lumpur."Saya menganggap Soeharto sebagai sahabat Malaysia maupun sahabat pribadi. Walaupun Indonesia bukan negara demokrasi yang ideal di masa Pak Harto, fakta yang membekas hingga saat ini adalah Pak Harto menciptakan stabilitas di Indonesia. Tentu saja, ada harga yang harus dibayar bangsa Indonesia untuk mencapai demokrasi," tutur Mahathir. Mahathir mengakui bahwa terdapat beberapa orang yang tertindas di masa pemerintahan Soeharto. Mahathir juga mengaku Malaysia berhutang kepada Soeharto karena peran pemimpin Orde Baru ini dalam mengakhiri konfrontasi melawan Malaysia.

Lain halnya dengan pandangan Menteri Luar Negeri Belanda Maxime Verhagen yang menjelaskan Indonesia mengalami masa kestabilan di bawah pemerintahan Soeharto, terutama di bidang ekonomi pada tahun 1980an. "Setelah Pak Harto lengser, Indonesia secara demokratis memilih seorang pemimpin negara baru. Ini memastikan Indonesia sebagai negara demokrasi," tutur Verhagen.

Bangladesh mencoba bersikap netral dalam menyampaikan kenangan terhadap Pak Harto. Ahmed Chowdhury, penasehat kementerian luar negeri pemerintahan sementara Bangladesh, menyebut kematian Pak Harto meninggalkan sejumlah permasalahan hukum. Menurut Ahmed Chowdhury, pendukung Pak Harto menyebutnya sebagai bapak pembangunan, sementara lawan politiknya menyebut presiden RI kedua itu sebagai diktator. (REUTERS)
WIDODO JUDARWANTO,UPDATE

Tidak ada komentar: